Memaparkan catatan dengan label Fantasi. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Fantasi. Papar semua catatan

Kucupan maut

Ahad, 10 Mac 2013

saat nafas kita bersatu
dan rohmu menyelinap masuk ke ronggaku
....kita tahu....
wajar dan akal telahpun berkubur
 dan yang tinggal hanyalah melanggar arahan
menerobos pusar merah
 dalam dan dalam
penuh larangan.........................

(10/03/13 3:48 am)
 
nota : gambar bukan milik penulis

-

Selasa, 13 November 2012

dan aku menari
di pentas khayal
bila istana itu terbuka
menjadikan aku puteri

(13/11/12 7:12 pm)

Kamu

Khamis, 25 Oktober 2012

aku mahu kamu



(noktah)

(25/10/12 1:40 am)
 
 
 

Orang Asing

Isnin, 16 Julai 2012

aku bercereka dalam minda
dalam kebisuan
menyusun kisah-kisah kita
waktu-waktu kita
ketika khayal bertembung nyata
hakikat bertembung dongeng
satu garis halus
yang kita simpul jadi satu
membuka sempadan
 
ada di langit
ingatan tak berwajah
sayup-sayup suara
yang tak pernah menjengah
lalu aku pejamkan jiwa
melihat dari hati
susuk roh ghaib
yang akrab dalam keasingan
 
tak lukuh
bagai bintang hitam di langit kelam
hanya terlindung dari pandangan
tidak hilang
dan ini aku
dalam tulus yang tiada tarikh luput
 
mungkin takkan terhurai
sebuah pengertian yang tidak datang bersama tafsiran
dongak ke angkasa
dan di sana berlegar rasa
aku lontar dari waktu
kepada waktu
untuk menjadi sekadar waktu
mematri sejarah
 
tentang pertemuan para pengembara
di satu simpang hidup
betapa ajaibnya takdir
menjadikan walau beberapa detik
sebuah ketentuan

dan di sini aku mengimbau 
bersama sejuta diam
nama yang tidak perlu bernama
cukup asal aku kenal
dan kamu tahu
kamu siapa
 
(16/07/12 10:48pm)
 
 

Bidadariku

Selasa, 15 November 2011


si kecil berbaju putih
dia kepunyaanku
.
.
.
.
berlumur darah
suram dan bungkam
dalam gelap itu

bidadari bersayap suci
dia milik aku
koyak dan luka
gelap dan murung

dia nigina
patah dan lara
pari-pariku
naif, suci


dia pari-pariku
-mati-

(15/11/11 11:36 pm)

nota : gambar bukan milik penulis

merah

Selasa, 11 Oktober 2011


....lihat pintu terbuka
satu undangan....
buat kamu
langkahlah
tembusi segala larangan
 datang hampiri
hampir lagi....
 lagi....
lagi....
lagi....
sehingga tiada jarak
nafas bertemu nafas
.
.
.
.
.
.
.
.

oh
tutup pintu itu, sayang
babak kamar merah....
....bahangnya terlalu panas
syyyyyyyyyyyyy....



(11/10/11 10:24 pm)

Damba

Isnin, 10 Oktober 2011

.........................................
apa yang aku mahu
cuma kerlip dari langit
memanahkan api
menusuk jiwa
lalu membakar darah
merangsang ghairah
dan nadi berdenyut
bergetar hangat
berahi dan merah

(10/10/11 2:02 am)



Dalam Transit KIta

Jumaat, 12 Ogos 2011


di satu titik
aku menumpang daratan
sama berdiri melihat bintang
cupa menggapai
aku,
kamu
dalam sebuah catatan

pada rintik-rintik hujan
gerimis yang menterjemahkan khayal
menjadi sebuah realiti
dan ghairah rasa
mencantumkan rindu
menjadi sehelai selimut
memeluk aku dari dingin
malam yang penuh dendam

diam aku di sini
melihat bulan
indah dalam kelam
seperti kita
yang membohongkan neraka
menjadi syurga
namun aku dakap teguh
bayu yang bersulam kaca
menikmati detik damai
walau hanya seketika

jangan menangis
sedang mataku basah
jangan bersedih
sedang jiwaku patah
aku yang mengambil kesempatan pada retak saat
mencuri kesakitan dari esok
buat mencalar hari ini
dengan luka yang lebih ringan

aku berdusta
menyarung topeng angkuh
menikam kemahuan
yang tertanam pada dada
dan koyak itu
sebenarnya aku
berlari-lari dalam berahi waktu
mencumbu empuk hamparanmu
pada padang yang hijau
dalam malam yang asyik
berdiri
pada sungkur yang bernama rebah

.
.
.
.
maafkan aku....
dalam bisu
maafkan aku....
dalam kaku
maafkan aku....
....dalam rindu....
 .
.
.
.
di satu garis
aku goreskan not biola
menjadi irama asmara
sama duduk mengutip kelip-kelip
menjadi balang cahaya
penghias malam kita
........

maafkan aku....
meminjam bahasamu
mematri ceritera
dalam transit kita
....dan kalau saja sudut kita bersua
adalah destinasi sebenarnya
bukanlah hentian seketika....
.
.
.
.
maafkan aku....
yang benar merindu
maafkan aku
....dalam sendu....

(12/08/11 11:16pm)

nota : gambar bukan milik penulis

Sketsa Tasik Ungu

Selasa, 21 Jun 2011


hening........
.
.
.
.

aku bukakan mata melihat keliling
ruang yang lengang sepi
....tertinggal kosong....
mengamati
tompok-tompok darah
cebisan pelepah hitam
sebilah belati bercalit merah
terdampar di tanah

....menarik nafas....
....aku merangkak lemah....
menghampiri tompok merah
....kian menghitam
aku sentuhi titik-titik kering itu
menarikan jemari
..merasai bekas-bekas darah
bekas darahmu
serentak berulang
detik kau berlalu pergi
terbang bersama sayap yang patah
dan aku belai kesan merah hitam itu
merasakan syahdu
seperti pisau merobek di hati

aku tunduk
berteleku
perlahan-lahan menggapai
menggenggam belati
lalu aku dakap rapat ke dada
seperti masih panas
darahmu yang terpalit
pada malam di saat aku torehkan namaku
mencacah lenganmu....
....aku teguk pilu....
menghadam suasana
menelannya dalam-dalam
kelibatmu telah tiada

terbenam segala bicara
kata-kata
suara
bersama kebisuan yang mencengkam
aku mengutip cebis-cebis
mengumpul pelepah hitam yang berguguran
menyusunnya di ribaan
menghirup rohmu dari helaian sayap yang jatuh
dan seketika
persis kau hadir semula
memenuhi rongga
menyenggama jiwa

.
.
.
.

aku kucup nyawa-nyawa luka
hatimu yang hancur dikisar hidup
aku rentap hatiku dan aku gantikan hatimu
rangkul erat
membelai wajah yang samar
di sebalik topeng....
....aku bisikkan
di dalam sepi
....dengarkan, sayang
aku tetap kasih
walau wajah di sebalik topeng itu
sekeruh lumpur
biar aku cucikan
biar tangan calar dan balar
diceracak topeng kerasmu yang kejap
....ini hanya aku
yang mengasihi jiwamu luhur
biar aku bersihkan
parut noda itu

.
.
.
.

terduduk........
rebah.....
merenung ke dalam tasik ungu yang indah
...dan bayang-bayang yang terbias
hanya bayangku seorang

aku hulurkan sepasang tangan yang ghaib
memeluk erat dirimu dari udara
....di kejauhan ini
memejam mata....
hanya mampu berbisik ke dalam hati
....aku rindu....
titipkan doa ke langit dunia ini yang semakin kelam
berbahagialah, sayang
sesudah kau langkaui alam khayal ini
di sebalik kabus sana
menjelma sebagai matahari yang cerah bersinar
takkan padam lagi....

di sini
penjaga halimunanmu ini....
....menggenggam kemas belati....
mengelar nadi....
dan melangkah masuk ke dalam tasik ungu
lalu tenggelam
terus tenggelam
........bersemadi, mati

(21/06/11 12:20 am)


nota : gambar bukan milik penulis

Berontak

Rabu, 20 April 2011

apa yang aku mahu
adalah untuk kau datang pada aku
pandang wajah aku
sentuh jiwa aku
berenang dalam mata aku
teroka naluri aku
dan khayal bersama aku

terlalu sukarkah?

(20/04/11 10:04 pm)


Pengembara

Khamis, 14 April 2011

seru namaku
seperti perjanjian kita
dan aku masih di istana dalam rimba
menjadi halimunan

....sehingga seruan keramatmu
membawa aku menjelma




bila nafas kita bersatu
aku adalah milikmu

(14/04/11 12:42 am)



bersetubuh dengan fantasi

Rabu, 2 Mac 2011


Bayang Kelam....
aku menyeru kau datang
datanglah merentas malam
ke mari, ke dalam fantasi ini

dengarkah kau rayuan yang berlegar?
pada angin....
pada bayu....
di situ aku berbisik
bisikkan namamu
dari lukaku
dari sepiku

pertaruhan malam
lena yang dibunuh kedinginan
datanglah Bayang Kelam
membelah sempadan itu
kerana aku gersang
menanti di ranjang resah

pejamkan mata
aku mengirim rindu
sama melihat jiwa
jiwamu dan jiwaku
biar luruh pintu
ruang kita menjadi satu

tolong pandangi aku
aku yang menelanjangkan dahaga
serapkan tenatku ke dalam ronggamu
dapatkah kau rasa?
kerana dari luka-luka itu
aku sedang mendamba

terkulai di kosong ini
jamahilah sunyi
lihat aku menangis....
air mataku di dalam jiwamu
bukankah kau mengerti?
benarkan aku menggadai sepi
menebus ghairah di malam yang pedih
jarak itu biar jadi lebur
hanya hanyut tenggelam
tiada bantahan

kau rebahlah di kamar ini
lalu relakan ia setulus-tulusnya
itu yang aku pinta
saat malam kita terus bernista
bolehkah...?
tenangkan aku dengan pelukmu
hangatkan aku dengan hangatmu
bolehkah...?
hilangkan dingin jasad ini
dengan bibirmu menyelimuti bibirku
tubuhmu menyelimuti tubuhku
kau sedutlah luka ini keluar
bawa ia jauh....
jauh dari membunuh aku
tolonglah!
tolong longlai di dakapku
tolong asyik di belaiku
tolong tenang di cumbuanku
tolong nikmat di tenatku
tolong setubuhi jiwaku....
hingga kosongku jadi penuh

Bayang Kelam....
aku menyeru kau datang
datanglah merentas malam
ke mari, ke dalam fantasi ini....

(17/03/08 8:38 pm)

asmara kematian....berahi yang berdarah


dari celah kegelapan
aku hadir
menarik guruh di langit
memanggil halilintar
bumi basah bertangis hujan

aku datang dari udara
dalam pelukan kurung hitam
mengirai rambut yang mengurai
syahdu menyelubung tubuh

di balik tabir kepiluan seribu
bisikkan namaku itu
bersaksi rantaian petir
dan cahaya lilin yang menari
seru aku
dan aku menjelma
meniti bayu


sambut kehadiran ini

mentera yang kau ratap

kepulanganku menyusur malam

sesudah seribu tahun

menjejak banglo usang


kau
yang membuka pusara lara
kau

yang memanggilku

dari persemadian

dan kini aku di sini

melayang menghampirimu


datang padaku, kekasih

melunas rindu ini

jalarkan jari-jemari itu

rasakan kedinginan di diriku

dan kedingian ini akan menusuk ke liangmu

menyebar hangat dambaanku

aku yang dahaga

menuntut jiwa


datang padaku, kekasih!

nafas yang berhembus di lehermu

dan berlari ke dada

berlari ke wajah

mengembaralah di tubuhku

dan bibir ini gemersik

merintih berahi


seru namaku, kekasih!

persembahkan untukku!

telanjangkan jiwamu

bongkar fantasi hitammu

persembahkan ia untukku

irama keras

biar malam terbelah

kencang!


di bawah purnama

benam cakarku

tertanam di kulitmu

mengalir darah

hangat dan merah

keindahan semulajadi

yang membasahi lidahku


lunaskan dahagaku, kekasih!

kucupan berdarah

gemalai bibir

menanam taring

meminum kemanisan yang merah

pejam matamu sayang

nikmati keasyikan ini


mengembaralah di tubuhku, kekasih

pergi ke bawah sana

hirup cintaku

tubuh yang melayang

membuka laluan

hirup sepuasnya

biar detik ini menjadi khayal


mengeranglah, kekasih!

jeritkan serakah itu

bersama darah dan luka

aku yang mencakar dan merobek kulitmu

panas dan dingin

menghidupkan kebencian di dalammu

menyemarakkan api amarahmu


puja aku!

maki aku!

cintakan aku....

dengan penuh kebencian

dan petir menyambar

aku turun ke bawah

untuk meluah kasih


buktikan cintamu, kekasih

apa yang ku mahu....

bila bibir ini menyapa kekejanganmu

sekali lagi taring terbenam

....aku mahukan jiwa....

mengoyak dan meratah

menghisap rakus

dan malam bermandi darah....


saat tubuh dinginku kembali hangat

tubuhmu beku

terkujur kaku

bangunlah, sayang

bangkit dari kematianmu

aku tersenyum menanti

malam ini kita bersatu

abadi selamanya....

(-zon gelap-20/02/08 2:08 pm)

Gelora

dalam kedinginan
mengalir hangat bara
meresapi liang-liang naluri
lantas menggoncang ketenangan
mengkecamukkan hasrat

semakin jauh dan jauh
hanyut dalam gelora
mengkucar-kacirkan degup jantung
menterbalik denyut nadi
terus keresahan
gelisah di puncak dunia

semakin hangat lagi
hingga menjadi merah
jiwa yang kian hangat terbakar
kian hilang kawalan
kian terdesak
mendesah kemahuan
menyentuh tubuh fantasi

membahang darah ini
diransang khayalan biru
ranjang yang memanggil jiwa
mahu tersungkur
membawa ilusi
rebah di kamar kayangan
membenamkan nurani

dalam alam mimpi
menyatukan nafas
kencang memburu dakapan
dan amuk sanubari ini
kian tak karuan
kian tak tertahan
meronta menggegarkan damai

rahsia itu
di sudut yang peribadi
dahaga yang menggila
mengisi daerah batin
ruang yang paling sulit

(10/08/06 3:14 am)

Tari Si Ballerrina

Ahad, 13 Februari 2011

sayup-sayup
nada pilu berkumandang
dan hujan menyendukan nada
berdentum guruh
sendu menyelubungi alam
memeluk sebuah pentas yang sunyi
berlatarkan irama sayu
meruntun ke dalam kalbu
bagai ratapan
suara pilu menusuk

dari tirai hitam
ke lantai tari berkaca
menjelma persis hembusan angin
melangkah bagai bayu di awan
gerak nan memukau
menyarung sepatu tari di kaki
dan perlahan-lahan menari
senyuman di sebalik mendung kelabu

dia melenggok tubuh
mengalunkan rentak
laksana dewi di pentas
dan perlahan-lahan bunyi kaca berderap
menjadi iringan muzik
dia tersenyum
entah apa erti

hujan merintik
penyeri persembahan
tari si ballerina
berjinjang kaki menakluki pentas
dengan hujan yang mengalir
bertukar merah
dia tersenyum lagi
entah apa erti

si ballerina berputar
menari di atas kaca-kaca berderai
setiap gerak yang semakin bertukar merah
dalam senyuman
sepatu bertitis darah
tangannya menjulang
mendongak langit hitam
hanya irama sayu
di dunia yang kelam

irama terus beralun
bagai tiada henti
persembahan yang berterusan
sebuah tari si ballerina
menari di atas kaca-kaca berderai
menghiburkan siapa
di rimba suram bagai pusara
kematian tertulis di udara

dan pentas berubah merah
airmata tumpah
namun si ballerina terus menari
tarian berdarah

(13/02/11 4:14pm)

hikayat taman larangan~the broken nigina

Sabtu, 7 Ogos 2010


bila buku usang terbuka kembali
dari pustaka istana terbenam
di detik ini di seribu tahun lalu....
masih ingatkah aku?
aku yang di bawah mentari indah
menari di dalam baju putih
membelai awan
dan mimpi berlegar di udara
berlakar warna-warni suci....

bergema kembali mentera
setelah sekian lama....
membawa taman ini kembali bernyawa
taman larangan....
tamanku....
kicau burung gemersik
memekar bunga yang mati
dan ketika ini menjadi ketika itu....
seribu tahun lalu....

masih ingatkah aku?
di kala rumput ini menghijau
aroma alam yang rahsia milikku
terpejam mata menjadi khayal
rasa itu di langit yang damai
bagai berenang dalam keasyikan
terlena dalam jaga
menulis impian
berarak di mega....

terlihatkah kau pada aku?
senyum ini hanya untukmu
menghulur tangan membuka genggaman
ditiup bayu yang permai
berterbangan kilau jernih
hingga ruang menjadi kerlipan
kelip-kelip memukau di kala siang
cerita indahku
dalam putih busana....
berlari mengejar rama-rama
rendang redup pepohon
menunggumu di dalam taman
sambil mengarang hikayat
mengukir kisah di buku masa

aku menunggumu....
menunggumu....
mengait daun-daun yang jatuh
di bawah jendela istana
menjadi selimut hangat
memeluk jiwamu
agar terhapus dinginmu

aku menunggumu....
menunggumu....
hingga bulan menjelma
menghilangkan siangku
memaut erat janji
menunggumu....
di tamanku yang indah
aku dan istana
bisikan syurga
dan aku menunggumu
menunggu kau hadir menemaniku

aku menunggumu....
menunggumu....

embun menangis....
kala fajar perlahan-lahan mengintai bumi
detik menghambat hari
berganti masa
dan aku menunggumu
menunggu kau hadir menemaniku
memaut erat janji
menunggumu....
di tamanku yang indah

masih ingatkah aku?
ketika janji dikhianati
aku yang membeku di bawah jendela istana
....hujan berganti salju....
kemarau berganti luruh....
angin debu....
dan aku menunggumu
masih menunggumu
hingga pudar putih bajuku....
....menjadi hitam....

masih ingatkah aku?
ketika istanaku diceroboh kejam
ketika tamanku dimusnahkan
rayuku menentang seteru
tumpas ditikam mata pedang
berlumuran darah
dan merangkak ke bawah jendela istana
menunggumu
ketika janji dikhianati
aku menunggumu....sehingga mati....

........................

bila buku usang kembali terbuka....
hikayat ini akan terus berulang....
di taman di mana jasadku bersemadi
di detik ini di seribu tahun lalu
ia abadi....

(22/11/08 2:24 am)

nota : gambar bukan milik penulis

Jenis Sampah